Seni Tanpa Sekat – Iwan J. Kurniawan

MINGGU,7 JUNI 2015

Seni tanpa Sekat

Ciputat Painting Festival bukan dibuat untuk menandingi hegemoni Artjog, Kehadiran helatan perdana ini sebagai bentuk untuk menampung seniman yang tak masuk jalur mainstream. Benarkah?

lwan J Kurniawan

Terik matahari tidak begitu menyengat. Satu per satu seniman sudah berkumpul di Rumah Budaya Nusantara (RBN) Puspo Budoyo, Ciputat, Tangerang Seni Selatan. Tepat pukul 12.15 WIB, satu per satu pun mulai antre mengambil semangkuk soto hangat.

Di meja utama ada juga jus, kopi, dan makanan ringan. Seniman asing dan Iokal pun bersama menyantap menu khas itu. Mereka bercerita, berbagi, dan berkisah tentangdunia seni rupa yang kini sudah tidak lagi berbataswilayah atau teritorial.

“Harum sekali (soto). Ayo kita makan siang,” ucap pelukis asal Belanda Elsbeth Bauer dengan bahasa Indonesia dan Inggris, Kamis (4/6).

“Silakan. Ayo, makan bareng dulu bersama,” timpal pelukis Indonesia berdarah Tionghoa Sugiri Willim. Mereka berdua merupakan seniman yang ikut pada Ciputat Painting Festival (CPF) itu.

Festival ini berlangsung pada Jumat (5/6) sampai Senin (8/6), menghadirkan 20 seniman dari 12 negara yang tergabung dalam Komunitas Meadows. Setiap lukisan begitu kuat dengan tema budaya dari asal negara pelukis. Para seniman pun berbaur dan santai.

Konsep festival memang cukup berbeda. Kurator CPF Ipong Purnama Sidhi mengaku festival perdana ini bukan sebagai tandingan atas helatan Artjog yang tengah berlangsung di Yogyakarta, 6-28 Juni.

“Tempat ini sedapatnya seperti Montmartre, Paris. Seniman dari mana pun, baik regional maupun internasional, bisa hadir berpamerandi sini, tanpa teritorial. Kami tak me Iihat nama, tetapi konsep, teknis, dan estetika,” ujar Ipong.

Selain Elsbeth dan Sugiri, hadir pula pelukis lainnya seperti Hagop Sulahian (Libanon), Katsu Shimmin (Jepang), Len Luks (Selandia Baru), Lena Kalekian (Libanon), Li Yushi (Tiongkok), Go Beng Kwan (Singapura), Trinh Tuan (Vietnam), Wattanachot Tungateja (Thailand), Micky Garcia Del Rio (Cile), dan Mon Thet (Myanmar). Untuk dalam negeri, selain Sugiri, ada Neneng Sia Ferrier, Lugiono, I Made
Arya Dwita Dedok, Hanny Widlaja, Heriawan SiaW dan Ipong sendiri.

Mereka menghadirkan karya yang cukup mewakili karakter masing-masing. Tema-tema kultural sebagi representasi seniman, khususnya yang dari Asia, pun begitu kuat. Tengok saja karya Thet yang begitu kuat mengungkapkan keagungan perempuan Myanmar. Itu bisa menjadi bukti tentang identitas yang ia bawa ke negeri lain.

Terlepas dari karya-karya yang dipajang, tentunya seniman yang terlibat punya kenangan lampau atas apa yang mereka hadirkan lewat karya.

Elsbeth, misalnya, menghadirkan Psycho of Life (120×90 cm, mix media, polyester lithography on canvas, 2015).

Dalam karya itu, perempuan yang tinggal di Leiden tersebut mengupas sosok ibu. Ada diafragma dan deformasi abstrak yang begitu kuat.

Ornamen bunga lili ia hadirkan sebagai simbol kesetiaan. “Saya tidak memasukkan unsur politik atau ideologi. Saya menghadirkan kasih seorang ibu pada anaknya,” tutur peIukis alumnus Royal Academy of the Arts, Den Haag, itu.

Dunia pewayangan

Meski setiap karya punya keunikan, pelukis lainnya, semisal Lugiono, masih bermain pada tema dunia pewayangan. Lelaki alumnus Institut Seni Yogyakarta itu menghadirkan Garuda Wisnu Kencana (mix media,
2013).

Pada lukisan itu jelas terlihat Wisnu sedang mengendarai Garuda. Ia seolah membawa persoalan yang berkecamuk di dunia ini untuk disampaikan ke Batara Guru, sang penguasa kahyangan. Di bawahnya, ada Kinnara dan Kinnari. “Maksud saya agar hal-hal yang baik terus berlangsung di dunia ini,” ucapnya.

Ia piawai menghadirkan simbol-simbol yang terletak di bawah gambar Wisnu. Ada binatang seperti celeng, kuda beringin, monyet, kijang, anjing, gajah, dan harimau. “Simbol itu sesungga karena kita tak bisa lepas dari binatang,” cetus lelaki yang tinggal di Jatibening, Bekasi, itu.
Corak lukisan Lugiono cukup khas.
Ia melukis materi dan dikombi.nasi-
kan dengan cukilan-cukilan. Ada
gundukan seperti perlak, semacam
karpet. Ia menempelkan perlak di
kanvas. Lalu, ia menggunakan teknik
cukilan sehingga saat kita menyentuh
Iukisan maka jelas ornamennya.
Terlepas dari pameran 20 seniman
tersebut, ada juga pergelaran Sendra-
tari Ramayana yang digagas penari
kawakan Lies Luluk Sumiarso. Semua-
nya terangkum lewat helatan yang
sederhana, tetapi bermakna. Mereka
berasal dari berbagai negara. Hadir
atas nama kesenian.
Bahkan, Kwan saat berdiskusi ber-
sama teman-teman seniman dan
wartawan pun memberikan ide ten-
tang pameran lintas negara. Ia meng-
usulkan komunitas seniman bisa
bergandeng tangan untuk meminta
perusahaan penerbangan agar mem-
berikan diskon penuh, terutama bagi
para seniman yang mau berpameran

di negara-negara lainnya.
“Indonesia ialah rumah kedua saya
karena saya lahir di Medan. Bila kita
bekerja sama dan bergandengan
tangan, bisa saj a merealisasikan
kerja sama dengan maskapai. Ini
berguna agar kita bisa pameran ke
mana-mana,” cetus lelaki bertubuh
bongsor itu.
Ipong yang duduk bersebelahan
dengan Luluk Sumiarso (suami Lies,
pendiri RBN Puspo Budoyo), dan Su-
giri, pun hanya tersenyum mendengar
celoteh Kwan. “Itu ide bagus. Kita bisa
bersama realisasikan,” timpal Luluk
seraya disambut tertawa keras seni-
man Iainnya.
Sebagaikawasan Ciputat yang masuk
dalam Provinsi Banten, kehadiran
CPF seakan menjadi bukti penting.
Seniman lokal dan mancanegara
berkumpul di Ciputat melalui jalur
independen. Mereka membincangkan
perkembangan seni rupa masa kini.
Di saat festival itu berlangsung, bu-
kan berarti mereka ingin merencah
hegemoni Artjog edisi kedelapan itu.
Semoga. (M-6)

miweekend@mediaindonesia.com

MI/IWAN J KURNIAWAN

GIPUIAI PAINIII’IG
FESIIUAI: Pelukis
asal Leiden,
Belanda, Elsbeth
Bauer, menjelaskan
karyanya berludul
Psycho of Life
(1 20×90 cm,
201 5) pada prosesi
pemalangan karya
pada Ciputat
Painting Festival
di Rumah Budaya
Nusantara Puspo
Budoyo, Ciputat,
Tangerang
Selatan, Kamis
(4/6). Festival ini
menghadirkan 20
seniman dari 12
negara. Pameran
seni rupa pun
berlangsung hingga
^ /^ /^\
)entn \ó/ or.